Sembarangan Upload Foto Anak Di Social Media. Pernahkah Bunda memikirkan Akibatnya ?!

Sebaiknya Anda berpikir panjang,  sebelum menggunggah foto-foto berikut ini agar terhindar dari situasi buruk.

  1. Anak sedang telanjang  ria

Ini pertama kalinya Anda melihat si kecil mandi dengan gembira di bak mandinya. Apalagi ia sudah bisa duduk,  bermain air dengan bebek plastik!  Rasanya tidak tahan ingin membagi momen bagus ini kepada teman-teman Anda di sosial media. Foto  itu mungkin lucu. Sayangnya, foto lucu itu bisa dimanfaatkan pelaku kejahatan seks  untuk menjadikan foto tersebut sebagai koleksinya. Ia simpan di komputernya? Oh, tidak! Kita semua tentu tidak ingin hal tersebut terjadi. Ada baiknya, sebelum mengunggah foto yang memamerkan tubuh anak Anda mencamkan apa yang dikatakan oleh mantan polisi dan ahli perlindungan anak asal  Inggris, Mark Williams-Thomas dalam artikelnya Daily Mirror. “Sebelum mengunggah foto sebaiknya setiap orangtua bertanya, apakah Anda senang jika foto-foto itu dilihat oleh orang-orang yang tidak Anda kenal termasuk pelaku kejahatan seksual?  Jika Anda oke, ya, silakan unggah. Jika tidak, ya, jangan diunggah!” Namun  menurut konvensi PBB, anak berhak atas privasi, termasuk menyangkut anggota tubuhnya.

  1. Hal yang akan diprotes anak

Wajahnya merah, penuh marah dengan air mata bersimbah. Ekspresi itu Anda unggah ke sosial media. Maksud Anda baik, ingin bertanya dan meminta pendapat, apa wajar bayi yang sedang menangis ekspresinya seperti itu. Namun akibatnya bisa terjadi beberapa tahun kemudia, saat anak menemukan foto tersebut. Ia bisa protes karena baginya foto itu memalukan dan melunakan kepercayaan dirinya. Anak merasa Anda tidak menghormatinya.

Sembarangan Upload Foto Anak Di Social Media

Sembarangan Upload Foto Anak Di Social Media

  1. Foto anak bersama orang lain

Saat jalan-jalan di taman, secara kebetulan Anda bertemu dengan teman lama yang juga memiliki anak seusia buah hati.  Setelah cipika-cipiki dan ngobrol sesaat, tukar nomor telepon, facebook, instagram… Anda pun mengajaknya selfie. Sebuah foto ceria, dua sahabat lama sedang memangku bayi. Setiba di rumah segera saja foto itu Anda share di semua akun Anda, disertasi tulisan, “senangnya ketemu sahabat lama di taman.” Eh, teman lama Anda protes keras dan meminta Anda mengahapus foto tersebut. Anda tidak enak hati. Emosi! Pertemanan yang baru tersambung itu pun terancam putus.

Anda berpikir,   hari gini  kok, masih ada orangtua yang tak suka mengunggah foto anaknya di sosial media? Kenyataannya memang ada. Alasan mereka beragam, demi keamanan anak. Masih ingat, kan, kasus foto anak Ruben Onsu dan Sarwendah Tan yang digunakan akun instagram jual beli bayi dengan nama akun @jualbayimurahsangat. Alasannya lain, bisa saja foto yang diunggah tidak enak dilihat. Jadi, please, berpikir ulang sebelum mengunggah  foto si kecil Anda dengan bayi orang lain yang,  kebetulan berfoto bersama dalam acara ulang tahun, reuni atau di seminar.  Jika Anda memang ingin sekali mengunggah, mintalah izin

  1. Teliti soal identitas anak

Yey, di usia 6 bulan si kecil mulai masuk day care! Anda bangga ia akan mulai mandiri selama beberapa jam, bahkan seharian. Ia akan bertemu dengan teman-teman baru, diasuh oleh guru-guru baik hati. Saking semangatnya dan Anda ingin orang-orang di day care mengenal dengan baik, memanggil nama si kecil dengan benar, dan bisa menghubungi Anda dengan cepat jika terjadi sesuatu, Anda pun memasang tag berisis  foto, menulis alamat rumah dan day care, telepon, dan alamat rumah di tas baru miliknya yang dibawa ke day care. Namun, jika Anda ingin mengunggah foto hari pertamanya di day care, perhatikan betul bahwa tag yang berisi informasi lengkap tentang si kecil tidak ikut di-share. Sebab hal tersebut bisa mengundang pelaku kejahatan memanfaatkannya. Misalnya, nih, menghubungi teman-teman dekat Anda di media sosial dengan mengatakan bahwa si kecil terancam. Atau lebih buruk lagi, ia mencari kesempatan menculik si kecil. Berbekal informasi lengkap itu, pelaku kejahatan bisa membuat orang percaya dan terkecoh. Menakutkan!

Maka ada benarnya, apa yang dikatakan oleh Graham Jones, psikolog spesialis internet. “Sebelum Anda update status bayangkan dulu Anda Anda sedang berdiri di depan stadion besar, di tengah ribuan penonton. Tanyakan pada diri Anda, apakah Anda, si kecil dan keluarga cukup bahagia jika khalayak ramai mengetahui tentang apa yang Anda unggah?Jadi, bayangkan perasaan anak nanti, misalnya,  saat melihat foto-foto saat ia selesai disunat yang memerlihatkan penisnya dilihat ribuan orang di sosial media atau foto si kecil sedang tidur dengan celana dalam terlihat. Foto-foto seperti itu, sebaiknya, sih, disimpan saja menjadi koleksi keluarga.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *