Anak Kurang Cerdas? Waspada Cacingan

Cacingan masih menjadi penyakit yang kerap diderita anak-anak di Indonesia, tak terkecuali di kota besar seperti Jakarta. Sayangnya, masyarakat Indonesia pada umumnya belum sepenuhnya menyadari bahaya cacingan bisa mengurangi potensi kecerdasan anak.

Larva cacing yang masuk ke tubuh seseorang akan enuju usus lalu bermukim di sana. Cacing lalu menggigit dinding usus untuk “membajak” nutrisi. Kurangnya nutrisi ini akan menghambat perkembangan kognitif anak dan membuat potensi IQ mereka berkurang.

Dokter Erni Guntarti mengatakan, selama ini masyarakat kerap mengabaikan infeksi cacingan. Gejala yang ditimbulkan akibat cacingan pun selalu disepelekan dan dianggap sebagai kondisi lumrah. Padahal, apabila terus dibiarkan, cacing akan terus berkembang biak di dalam tubuh dan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kesehatan anak.

“Kami berharap Gerakan Waspada Cacingan bisa memberikan kesadaran yang kuat kepada masyarakat betapa infeksi cacingan dapat membuat pertumbuhan dan perkembangan otak anak-anak kita terganggu. Melalui gerakan ini, kami berharap seluruh masyarakat lebih waspada terhadap bahaya cacingan dan bisa mengambil tindakan pencegahan sedini mungkin,” Dr. Erni, dalam siaran persnya, Senin (13/02/2017).

Waspada Cacingan

Waspada Cacingan

Dia menambahkan, gerakan ini mengajak seluruh pihak untuk terus memberikan edukasi dan informasi kepada masyarakat agar lebih menyadari bahaya cacingan, terutama bagi anak-anak di masa pertumbuhan.

Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) dari Kementrian Kesehatan RI drg. Vensya Sitohang, M. Epid, menjelaskan bahwa infeksi cacingan memang masih menjadi salah satu penyakit yang banyak diderita anak-anak di Indonesia. Infeksi cacingan juga terjadi pada anak-anak yang tinggal di kota-kota besar.

“Prevalensi cacingan di Indonesia memang masih tinggi dan menyebar di seluruh wilayah. Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Kesehatan, terus berupaya untuk mengurangi infeksi cacingan dengan mempromosikan gaya hidup sehat dan sanitasi yang bersih,” kata drg Vensya.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat, rata-rata prevalensi cacingan di Indonesia mencapai lebih dari 28% dengan tingkat yang berbeda-beda di tiap daerah. Data Kementerian ini juga menunjukkan, tingkat prevalensi di Jakarta Timur cukup tinggi, mencapai 48,73%, sedangkan di Jakarta Utara mencapai 39,22%.  Denpasar, yang merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia, tingkat prevalensinya mencapai 73,68% dan Lebak,  Banten, mencapai 60%.

Tingginya prevalensi cacingan di Indonesia tidak terlepas dari iklim tropis Indonesia yang memungkinkan beberapa jenis cacing berbahaya tumbuh dan berkembang. Di samping itu, kondisi lingkungan yang tidak sehat dan sanitasi yang buruk bisa mempercepat masuknya larva cacing ke dalam tubuh.

Dokter spesialis anak dr. Sri Kusumo Amdani SpA(K) menjelaskan, gejala cacingan muncul ketika cacing sudah berkembang biak dengan jumlah besar di dalam tubuh.

“Cacingan sangat berbahaya bagi anak-anak usia terutama di bawah 4 tahun, karena mereka akan kehilangan golden period. Cacing yang berkoloni di dalam usus akan mengambil nutrisi dan zat gizi lain yang penting untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak-anak. Tindakan pencegahan yang perlu dilakukan, selain menerapkan gaya hidup bersih dan sehat, juga mengkonsumsi obat cacing enam bulan sekali,” ujar dr. Sri Kusumo.

Organisasi Kesehatan Dunia WHO juga menyarankan agar masyarakat mengonsumsi obat cacing sekali setahun. Namun untuk mereka yang tinggal di lingkungan dengan tingkat prevalensi cacingan lebih dari 20%, dan dua kali setahun untuk yang lebih dari 50%.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *