ANAK

Anak Gendut Bukan Berarti Sehat

Anak Gendut Bukan Berarti Sehat

Punya anak kecil yang montok dan gendut memang lucu dan terlihat imut-imut. Tapi ingat, gendut tidak berarti selalu sehat. Bahkan, dapat memicu berbagai penyakit kendati anak-anak masih dalam usia balita.

Kegemukan atau obesitas pada anak secara umum dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan secara keseluruhan. Obesitas adalah suatu gangguan status gizi lebih dengan berbagai derajat, mulai dari ringan, sedang, sampai berat badan umumnya berada di atas normal. Sebagai patokan kasar, berat badan normal diukur dari umur anak dikali dua, lalu ditambah delapan (ukuran kg).

Di Indonesia, kegemukan belum menjadi masalah nasional. Namun, di AS, kegemukan sudah menjadi epidemi yang mengakibatkan berbagai masalah kesehatan serius. Tiga dari lima orang AS mengalami kelebihan berat badan. Para peneliti di Negeri Paman Sam itu memperkirakan, anak-anak di AS kini akan menjadi generasi dengan tingkat harapan hidup lebih singkat, daripada orangtua mereka. Penyebab obesitas pada orang AS antara lain dikarenakan perusahaan makanan memperbesar porsi produknya dan kebiasaan masyarakat mengonsumsi fast food atau makanan cepat saji.

Anak Gendut Bukan Berarti Sehat
Anak Gendut Bukan Berarti Sehat

Sejak tahun 1977, kalori yang dikonsumsi orang AS naik sekitar 10 persen atau sekitar 200 kalori lebih setiap hari. Sebelumnya AS disebut ‘Republik Alkohol’ karena mereka gemar minuman beralkohol untuk sarapan, makan siang, dan makan malam. Sekarang julukan itu mestinya berubah menjadi ‘Republik Kegemukan’.

Semakin banyak dan murahnya makanan dituding pula sebagai penyebab obesitas. Ketika hasil panen membeludak, pasar pun dibanjiri makanan yang berharga murah. Orang lalu cenderung menambah porsi makannya. Melihat kecenderungan itu bukan tidak mungkin gaya hidup orang Indonesia sudah mulai terpengaruh. Karena itu pula suatu hari nanti, kita sangat mungkin bakal menghadapi masalah kegemukan nasional, terutama pada anak-anak. Penyebab obesitas adalah asupan makanan yang melebihi kebutuhan tubuh dan berlangsung dalam waktu lama. Penyebab lain yang secara tidak langsung berpengaruh, yakni keturunan atau genetik, endokrin (kelainan hormonal), dan eksternal atau pola makan yang tinggi kadar lemak dan kalorinya.

Obesitas yang disebabkan faktor genetik, biasanya pada usia dini sudah banyak terbentuk sel lemak adipocytes. Sel lemak ini terbentuk karena asupan tinggi kalori sejak dalam kandungan sampai usia satu tahun. Secara umum angka kejadian obesitas lebih banyak di kota, dan pada keluarga dengan sosial ekonomi tinggi. Kalangan inilah yang biasanya sering mengonsumsi makanan tinggi kalori dan kaya lemak, misalnya makanan cepat saji itu tadi.

Sebenarnya obesitas bukan penyakit. Namun, anak yang menderita obesitas dapat mengalami komplikasi gangguan jantung dan pembuluh darah pada usia dewasa. Akibat gesekan-gesekan pada tubuhnya, dapat terjadi lecet terutama di sekitar paha. Mereka juga dapat mengalami gangguan psikologis karena memiliki tubuh yang berbeda dengan bentuk tubuh temantemannya.

Yang penting diketahui juga, obesitas pada anak akan mempengaruhi kematangan tulang. Tulang anak-anak ini akan lebih cepat matang, sehingga tidak berkembang lagi. Akibatnya, dibanding anak lainnya, dia akan lebih pendek. Kondisi obesitas yang terjadi semasa kanak-kanak tidak Selalu menetap hingga Ia tumbuh dewasa. Kegemukan cenderung terbawa sampai dewasa bila dikarenakan faktor genetik, derajat obesitas yang berat, serta obesitas yang terjadi menjelang dewasa.

Menurut Profesor Ricardo Uauy, Ketua Public Health Nutrition di London School of Hygiene and Tropical Medicine, yang juga penyusun laporan tentang obesitas di kalangan anak-anak, mengajak berbagai pihak untuk merumuskan strategi global guna mengatasi melonjaknya angka anak-anak dengan obesitas di berbagai tempat di seluruh dunia.

“Kita menghadapi suatu epidemi di kelompok usia kanak-kanak. Sebelumnya kita menyangka obesitas merupakan problema orang dewasa, tapi kenyataannya juga mengancam anak-anak dan tampaknya makin memburuk,” ucapnya.

Ia menjelaskan, Amerika Serikat merupakan negara dengan angka obesitas di kalangan anak-anak yang paling parah, dengan prevalensi 30 persen di antara anak-anak usia 5 hingga 17 tahun, lonjakan angka juga terlihat di Eropa, Timur Tengah, serta kawasan Asia Pasifik.

Sepuluh hingga 20 persen anak-anak di Eropa Utara cenderung kelebihan berat badan, sementara di Eropa selatan angka itu lebih tinggi, yakni 20-35 persen. Lebih lanjut ia mengatakan, problem kesehatan yang semula merupakan ciri khas negaranegara industri Makan kalori tinggi, banyak dibantu alat-alat di dunia kerja, dan tingkat aktivitas Fisik yang rendah itu Kini juga menyebar Ke negara-negara berkembang.

Di Afrika Selatan, sekitar 25 persen gadis usia 13-19 mengalami kelebihan berat badan dan obesitas. Angka Itu sudah mendekati Jumlah yang sama dengan Di AS.

Dalam suatu laporan, Uauy dan rekan mengidentifikasi tren sosial yang menyebabkan gangguan tersebut dan meminta organisasi kesehatan dunia (WHO) membantu negara berkembang untuk menetapkan strategi guna melawan ancaman obesitas di kalangan anak-anak.

Ia mengungkapkan, strategi itu bisa mencakup peningkatan gizi ibu, mendorong pemberian ASI, mendorong sekolah untuk mengajarkan makan yang sehat kepada anak-anak, memberi informasi nutrisi yang jelas kepada konsumen, serta menyediakan arena bermain yang aman di lingkungan tempat tinggal. Obesitas meningkatkan risiko anak-anak untuk terkena diabetes tipe 2, serangan jantung, stroke, dan sejenis kanker tertentu.

“Strategi global berarti membuat anak-anak tetap aktif bergerak di sekolah dan di tempat bermain serta memastikan makanan yang diasup tak berlebihan karena tidak seimbang dengan aktivitas fisik mereka,” katanya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *